HANIK ENDANG NIHAYATI

Berpacu menjadi yang terbaik

Prinsip Assertiveness Training

diposting oleh hanikendangnihayati-fkp pada 10 March 2017
di Keperawatan jiwa - 0 komentar

Prinsip Assertiveness Training

  1. Keterampilan yang dilatih

Keterampilan yang dilatih dalam Assertiveness Training menurut Jakubowski dan Lange (1976, dalam Mavrodiev dan Peneva, 2013) meliputi 4 (empat) hal, yaitu pembentukan kemampuan untuk membedakan antara perilaku asertif, agresif, dan pasif. Keterampilan selanjutnya adalah membantu individu untuk mengetahui hak individu dan menghormati hak orang lain. Ketiga, menurunkan hambatan kognitif dan afektif dalam berperilaku asertif. Keempat, mengembangkan kemampuan asertif melalui metode praktik.

Menurut Vinick (1983), keterampilan yang dilatih dalam Assertiveness Training, meliputi melatih individu memahami perilaku asertif dan agresif, membantu mengidentifikasi hak personal, dan meningkatkan keterampilan asertif melalui praktek secara langsung.

Beberapa uraian di atas dapat disimpulkan bahwa keterampilan yang perlu dilakukan dalam Assertiveness Training, meliputi melatih individu memahami perilaku asertif dan agresif, membantu mengidentifikasi hak asertif individu, mengekspresikan perasaan, membuat permintaan dengan baik, dan mengatakan tidak pada permintaan yang tidak diinginkan atau irrasional.

  1. Teknik komunikasi

Teknik komunikasi yang digunakan adalah pesan komunikasi asertif yang terdiri dari 3 unsur, yaitu facts, feelings, dan fair request. Unsur Facts menegaskan bahwa pernyataan yang diutarakan harus berdasarkan fakta bukan opini atau prasangka pribadi. Feelings merujuk pada bagaimana perasaan kita terhadap pemicu atau provokasi yang kita hadapi dan mengutarakannya dengan tepat. Fair Request, untuk  memperlihatkan bagaimana mengajukan permintaan dengan adil kepada orang lain (Nay, 2007).

Assertiveness Training menggunakan bahasa tubuh yang tepat dalam menyampaikan komunikasi yang asertif. Bahasa tubuh yang digunakan dalam komunikasi asertif, meliputi ekspresi wajah, posisi tubuh, serta gerakan dan sikap tubuh. Ekspresi wajah dalam komunikasi asertif dengan menatap lawan bicara dan tunjukkan minat untuk berkomunikasi, selanjutnya hindari ekspresi wajah negatif seperti memutar bola mata, mengerutkan alis, dan membuang muka. Komunikasi asertif dilakukan dengan memposisikan tubuh agar sepenuhnya bisa melihat lawan bicara, duduk dengan nyaman, dan majukan tubuh sedikit untuk menunjukkan keterlibatan. Gunakan sikap tubuh yang ramah dalam menerima lawan bicara (Nay, 2007).

  Teknik komunikasi asertif yang digunakan menurut Stuart dan Laraia (2005) seperti kontak mata yang tepat, ekspresi wajah yang sesuai dengan pembicaraan, volume bicara yang sesuai, postur tubuh tegak, dan jarak komunikasi terapeutik

2.2.2     Teknik pelaksanaan Assertiveness Training

Menurut Vinick (1983) bahwa pemberian Assertiveness Training dapat dilakukan dengan cara individu atau berkelompok. Assertiveness Training yang dilakukan dilakukan Jakubowski dan Lange (1976, dalam Mavrodiev dan Peneva, 2013) terdiri dari empat langkah yaitu:

  1. Mengajarkan apa itu perilaku asertif dan agresif, serta perbedaan antara keduanya
  2. Membantu memperkenalkan hak diri sendiri dan hak orang lain
  3. Mengkaji hambatan kognitif dan afektif dalam berperilaku asertif
  4. mengembangkan latihan asertif melalui metode praktik secara aktif.

Pelaksanaan Assertiveness Training dalam penelitian Vinick (1983) menggunakan empat teknik yaitu :

  1. Instruction, feedback dan coaching

Instruction merupakan penjelasan secara verbal atau strategi yang akan digunakan. Feedback merupakan umpan balik kepada individu terhadap kemampuan verbal maupun nonverbal. Komponen nonverbal kontak mata, ekspresi wajah, volume suara, postur tubuh, dan jarak bicara. Coaching merupakan kombinasi instruction dan feedback, dimana terapis menyampaikan strategi, teknik komunikasi dan feedback.

  1. Reinforcement, dengan memberikan reinforcement dapat meningkatkan perilaku positif melalui penguatan eksternal.
  2. Modeling disebut juga belajar melalui observasi, individu belajar perilaku baru tanpa tindakan aktual. Belajar melalui melihat, individu dapat berlatih perilaku baru.
  3. Behavioral rehearsal, yaitu individu akan berlatih mengulang perilaku baru.

Beberapa uraian di atas dapat disimpulkan bahwa, penerapan Assertiveness Training dilakukan melalui 4 tahap yaitu 1) describing, 2) learning, 3) practicing, dan 4) role playing. Tahap describing merupakan tahap menjelaskan tentang batasan asertif dan agresif. Tahap selanjutnya adalah learning, tahap ini menyebutkan hak-hak individu/ klien dalam batasan asertif. Tahap ketiga adalah practicing, tahap ini mempraktekkan teknik asertif dalam mengungkapkan keinginan, perasaan tidak nyaman, menolak permintaan, dan mengatakan tidak pada permintaan yang irrasional. Tahapan keempat dilakukan role play sesuai dengan bahasan dalam tahap praktek (practicing).

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :