HANIK ENDANG NIHAYATI

Berpacu menjadi yang terbaik

Intervensi Perilaku Kekerasan

diposting oleh hanikendangnihayati-fkp pada 10 March 2017
di Keperawatan jiwa - 0 komentar

Rentang intervensi keperawatan pada perilaku kekerasan terdiri dari 3 (tiga) strategi, diantaranya strategi preventif, strategi antisipatif, dan strategi pengurungan (Stuart dan Laraia, 2005; Yosep, 2010).

  1. Strategi preventif

Strategi ini merupakan tindakan untuk mencegah terjadinya perilaku kekerasan, strategi ini terbagi atas:

  1. Kesadaran diri

Kesadaran diri yang dimaksud adalah kesadaran diri petugas, khususnya perawat. Penting bagi perawat untuk mengidentifikasi kemampuan dirinya dalam menggunakan diri secara terapeutik terhadap klien dengan perilaku kekerasan. Kondisi seperti kelelahan, kecemasan, marah, dan apatis akan menghambat klien dalam memahami masalah klien dan mengurangi energi. Perawat harus menyadari bahwa stres yang dihadapinya dapat mempengaruhi komunikasinya dengan klien dan energi dirinya untuk melakukan tindakan perawatan juga berkurang, hal itu akan mengurangi kualitas perawatan terhadap klien (Stuart dan Laraia, 2005; Yosep, 2010).

  1. Pendidikan klien

Pendidikan yang diberikan kepada klien adalah bagaimana mengekspresikan marah yang tepat, karena masih banyak klien mengalami kesulitan mengekspresikan perasaannya, kebutuhan, hasrat, dan bahkan kesulitan mengomunikasikannya dengan orang lain (Muhith, 2015).

  1. c.       Assertiveness Training

Latihan asertif membantu membentuk klien dalam berperilaku asertif (Kaplan dan Sadock, 2010). Latihan asertif untuk melatih klien supaya mampu mengekspresikan perasaannya dan mengomunikasikan kepada orang lain atau petugas dengan baik. Menurut Stuart dan Laraia (2005) dan Yosep (2010), kemampuan asertif dalam hubungan interpersonal yang harus dimiliki seorang perawat, meliputi:

1)      Komunikasi langsung dengan setiap orang

2)      Mengatakan “tidak” untuk sesuatu yang tidak beralasan

3)      Sanggup melakukan komplain

4)      Mengekspresikan penghargaan dengan tepat

 

  1. Strategi antisipatif

Strategi ini diberlakukan kepada klien dengan riwayat perilaku kekerasan, tetapi respon kemarahannya belum mengancam keselamatan dirinya sendiri, orang lain dan lingkungan (Stuart dan Laraia, 2005). Intervensi pada strategi ini meliputi:

  1. Strategi komunikasi

Strategi komunikasi yang dipakai pada klien dengan perilaku kekerasan diantaranya adalah bersikap tenang, bicara dengan lembut, bicara dengan netral dan tidak menghakimi, menunjukkan respek kepada klien, hindari intensitas kontak mata langsung, fasilitasi pembicaraan klien, dengarkan klien dan jangan terburu-buru menginterpretasikan (Yosep, 2010).

  1. Perubahan lingkungan

Unit perawatan hendaknya menyediakan sarana yang dapat mengurangi perilaku klien yang tidak sesuai dan dapat meningkatkan adaptasi sosial klien, seperti ruang baca, aktivitas berkebun, dan grup program (Yosep, 2010).

  1. Tindakan perilaku

Tindakan perilaku merujuk pada membuat kesepakatan dengan klien tentang perilaku yang dapat diterima (disepakati) dan tidak, konsekuensi yang diterima jika kesepakatan tersebut dilanggar, dan kontribusi yang diberikan kepada klien selama perawatan (Yosep, 2010).

 

  1. Psikofarmakologi

Obat-obatan yang dapat digunakan dalam penatalaksanaan perilaku agresif menurut Stuart dan Laraia (2005), diantaranya adalah antiansietas, sedatif, antidepresan, moodstabilizer, dan antipsikotik. Obat golongan antiansietas dan sedative-hipnotics diberikan pada klien yang mengalami agitasi akut, tetapi pemberiannya tidak direkomendasikan dalam jangka waktu lama karena dapat menyebabkan kebingungan dan ketergantungan. Obat golongan ini adalah lorazepam dan clonazepam. Antidepresan digunakan pada klien dengan perilaku kekerasan yang berkaitan dengan perubahan mood dan lebih efektif pada klien dengan gangguan mental organik dan cedera kepala. Moodstabilizer diberikan pada klien perilaku kekerasan karena manik. Apabila agitasi terjadi karena delusi, halusinasi, atau perilaku psikotik lainnya, maka akan diberikan obat-obatan antipsikotik untuk mengurangi gejala tersebut (Yosep, 2010).

  1. Strategi pengurungan

Prosedur ini diterapkan jika klien jatuh dalam keadaan krisis dan adanya kegagalan dalam intervensi awal. Intervensi yang diberikan dalam strategi ini, meliputi manajemen krisis, isolasi dan restrain (Yosep, 2010).

  1. Manajemen krisis

Penanganan klien dengan perilaku kekerasan yang jatuh dalam keadaan darurat dilakukan dengan pembentukan tim krisis yang terdiri dari dokter, perawat, dan konselor.  Penanganan dalam tahap ini membutuhkan kesigapan dan kekompakan anggota  serta memperhatikan aspek keselamatan klien. Manajemen aktif dalam tahap ini adalah restrain fisik/ mekanik dan kimiawi (Stuart dan Laraia, 2005; Muhith, 2015).

  1. Isolasi (seclusion) dan pengekangan (restrain)

Isolasi merupakan tindakan menempatkan klien dalam suatu ruangan tersendiri, sehingga klien tidak dapat keluar atas kemauannya sendiri. Restrain merupakan tindakan membatasi gerak klien dan merupakan tindakan keperawatan yang terakhir dalam menangani klien dengan perilaku kekerasan yang jatuh dalam keadaan krisis. Ada dua macam pengekangan, yaitu pengekangan secara fisik atau mekanik dengan menggunakan manset atau tali pengekang dan pengekangan secara kimiawi dengan menggunakan medikasi (Stuart dan Laraia, 2005). 

Tinggalkan Komentar

Nama :
E-mail :
Web : tanpa http://
Komentar :
Verification Code :